28
Jan
09

ROMO PURWATMO: TENANG, CERDAS, DAN MENEGUHKAN

TIDAK banyak orang yang bisa menerima kekurangan dan kelemahan dirinya hingga tidak jatuh menjadi rendah diri, minder, frustrasi, atau bahkan sampai bunuh diri. Tidak banyak pula orang yang dapat menerima kelebihan, kehebatan, dan keberhasilan dirinya hingga tidak menjadi sombong, lupa diri, dan bahkan sampai merendahkan orang lain. Romo Purwatmo termasuk satu di antara yang tidak banyak itu.

Purwatmo di tahun 70-an bukanlah sosok gemuk bergisi seperti saat ini. Waktu itu, di SMP Kanisius Baturetno, dia termasuk the smallest three (termasuk saya) yang tidak pernah diperhitungkan dalam kegiatan-kegiatan fisik, karena begitu kecil tubuhnya, dan memang repot untuk dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan olah tubuh. Maka, untuk kegiatan-kegiatan semacam itu dia hanya jadi pupuk bawang atau dianggap “tidak ada”. Apalagi waktu itu, bahkan hingga romo muda (sebutan untuk Frater Praja) di Seminari Tinggi, dia tidak bisa mengucapkan konsonan ‘r’ alias cedhal, hingga teman-teman sering menertawakan atau bahkan mengejek.

Hebatnya Purwatmo, kekurangan dan kelemahan dirinya bukanlah alasan untuk menjadi minder, rendah diri, atau frustrasi. Dengan tubuh mungilnya, Purwatmo dapat menyelusup ke mana-mana, terlibat secara hangat dalam kelompok-kelompok pergaulan teman sekelasnya. Purwatmo bukanlah tipe orang yang bersembunyi-sembunyi karena kekurangan dan kelemahannya, tetapi selalu hadir di tengah teman-temannya bersama dengan kelemahan dan kekurangan itu.        

Seminari Tinggi, bagi saya, bagaikan Taman Firdaus yang penuh dengan suka ria dan keceriaan. Ada alat musik, lapangan badminton, lapangan volley, ruang ngetik (waktu itu belum ada komputer) ruang baca, dan ruang rekreasi yang meriah. Jam-jam rekreasi menjadi hingar bingar karena main kartu atau sekedar cerita-cerita tentang murid-murid sekolah yang pandai, genit, atau cantik. Romo Purwatmo selalu ada dalam keceriaan-keceriaan itu. Kehebatannya bermain kartu baru dapat dipamerkan di saat-saat seperti itu.

 Bila sore hari, tiba waktunya bermain volley. Ada dua lapangan volley: yang satu lapangan untuk Tim yang hebat-hebat, yang satu lapangan lagi untuk volley rakyat. Sudah pasti Romo Purwatmo hanya ikut volley rakyat. Namun kehadirannya amat dibutuhkan, karena tanpa dia jumlah pemain menjadi kurang satu. Itulah Romo Purwatmo yang hadir pada saat dibutuhkan, meski hanya menjadi rakyat dan “pelengkap penderita” sekalipun. Dalam bermain badminton, setali tiga uang. Romo Purwatmo juga hanya pelengkap. Namun ia gigih berlatih, termasuk bersedia menyisihkan uangnya untuk membeli raket baru. Tidak menyerah karena kekurangannya! Pasti juga karena kegigihannya untuk terus berlatih  itu yang  menyebabkan “penyakit” cedhal-nya sembuh. Apalagi dia hobby makan cabai.

*****

 

PURWATMO amat cerdas. Sejak SMP nilai-nilainya maksimal. Ia laksana pedang pamungkas,  menjadi tumpuan terakhir untuk menjawab soal-soal yang tersulit yang tidak bisa dijawab oleh teman-teman sekelas. Di Mertoyudan ia langganan untuk menerima penghargaan cum laude. Hebatnya, nilai-nilai sebagus itu diperoleh bukan dengan kerja keras, wayangan, atau SKS (sistem kebut semalam) dan giat belajar, tetapi dengan belajar secukupnya saja.

Di Seminari Tinggi kehebatannya itu tetap dibawa.  Ia tidak membutuhkan waktu banyak untuk mempelajari diktat-diktat kuliah, karena bisa jadi mesin memorinya memang hebat sehingga dengan mendengarkan kuliah di kelas pun sudah cukup. Maka di malam hari di tengah-tengah temannya yang sibuk baca-baca diktat, ia sering jalan-jalan, kadang masuk ke kamar teman-teman untuk sekedar mendengarkan teman-teman yang omong-omong tentang bahan kuliah yang sedang dipelajarinya. Dengan cara itu, mungkin dia belajar dan mengasah memorinya. Dengan cara seperti itu saja, dia tampak tenang dan siap menghadapi ujian tanpa harus stress dan gemetaran.  Waktu itu refren masmur yang menjadi kidungan para romo muda menjelang ujian adalah: ”Aku percaya kepada-Mu. Nasibku ada di tangan-Mu.” Romo Purwatmo pasti tidak se-pesimis itu, karena ia siap menghadapi ujian apa pun!

*****

PADA misa minggu 12 Oktober 2008 (Minggu Biasa XXVIII) bacaan Injil yang dibacakan adalah Matius 22:1-14 tentang perumpamaan seorang tuan yang mengadakan perjamuan kawin dan mengundang tamu-tamu tetapi tidak pada datang sehingga tuan itu mengundang siapa saja termasuk mereka-mereka yang tidak berpakaian pesta. Dengan bacaan semacam itu seorang romo yang berkhotbah (di hadapan umat yang menanggapi undangan Tuhan mengikuti Perjamuan Ekaristi, lho!) mengatakan begini:”Bapak ibu dan saudara-saudara sekalian, kita kerap kali diundang Tuhan untuk mengikuti Perjamuan Ekaristi, tetapi kerap kali tidak menanggapinya. Kita kerap kali tidak mengenakan pakaian pesta….”

Pikir saya waktu itu: ”Romo berkata seperti itu di hadapan kami-kami yang jelas-jelas menanggapi panggilan Tuhan. Apakah tepat? Bagaimana romo tahu bahwa kami-kami ini kerap kali tidak menanggapi panggilan Tuhan, wong jelas-jelas saat ini kami hadir di Ekaristi? Bukankah kata-kata itu salah alamat? Bukankah lebih tepat romo itu memberi peneguhan dengan mengatakan bahwa saudara-saudari yang hadir di sini adalah orang-orang yang menanggapi undangan Tuhan (karena kenyataannya memang seperti itu) dari pada mengritik, dan belum tentu benar?”

  Romo Purwatmo pasti bukan pengkhotbah seperti itu. Dalam khotbah-khotbah yang saya dengarkan, Romo Purwatmo selalu memberikan peneguhan-peneguhan, bukannya mengritikkan sesuatu yang belum tentu benar. Ia berkata dari sisi positif, bukan dari sisi negatif. Butir-butir gagasan yang disampaikan bisa jadi sama. Tetapi dengan bahasa-bahasa “meneguhkan” maknanya bagi umat pasti lain, karena lebih positif, meneguhkan, dan tidak melemahkan semangat.

Tanggal 26 Juli 2006 Romo Purwatmo memimpin misa pembaptisan anak saya. Yaah, siapa tahu kematian seseorang? Malam sebelumnya simbah meninggal dunia (sesuatu sama sekali tidak kami harapkan), dan siang harinya dimakamkan. Sore hari setelah pemakaman itu kami merayakan Ekaristi pembaptisan anak saya. Bagaimana orang dapat dengan cepat mengubah kesedihan menjadi kegembiraan? Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya berkhotbah tentang suka cita di tengah orang yang berduka.

Romo Purwatmo dapat meneguhkan kami, bahwa kematian simbah merupakan tanda suka citanya setelah cucu yang dinantikannya lahir. Seperti Simeon tua yang begitu bahagia setelah bertemu dengan kanak-kanak Yesus dan mengatakan:”Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera ….” (Lukas 2:29). Bacaan itu dipilih Romo Purwatmo sendiri.

Romo Purwatmo selalu hadir dengan cara meneguhkan seperti itu. Saya kira di tengah umat dan para seminaris pun Romo Purwatmo juga lebih memberi peneguhan dari pada kritik, meskipun dengan bahasa yang meneguhkan pun masukan-masukan positif (lebih tepat dari pada “kritik”) dapat disampaikan.

Sekarang ini banyak orang dapat mengakses pelbagai informasi. Banyak orang pandai karena informasi dapat diperoleh di mana-mana. Maka yang dibutuhkan orang bukan informasi-informasi itu tetapi bahasa-bahasa peneguhan yang menguatkan. Romo Purwatmo, saya rasa, sosok pribadi yang amat dibutuhkan banyak orang itu. Ia selalu hadir di tengah kekurangan dan kelebihannya untuk memberikan peneguhan bagi teman-teman, dan seluruh umatnya.

 

 Selamat Pesta Perak!

 

                        *Agus Tridiatno, teman kelas Romo Purwatmo 

                          sejak 1969 s.d. 1982;Sekarang menjadi dosen

                         di Universitas Atma Jaya Yogyakarta


0 Responses to “ROMO PURWATMO: TENANG, CERDAS, DAN MENEGUHKAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: