28
Jan
09

Model Menggereja dan Penghayatan Imamat Rm. M. Purwatma

(Edisi Pesta Perak Imamat Rm. Purwatma, Pr)

 

 Sejak tujuh belas tahun terakhir, saya mengalami kehadiran Rm.Purwatma dalam hidup saya secara intensif. Bentangan waktu yang panjang itu bisa dibingkai dengan satu konteks luas sekaligus khas, yaitu Gereja. Gerejalah yang mempertemukan saya dengan Rm.Purwatma dan membuat proses perjumpaan itu menjadi rajutan pengalaman yang memuat banyak makna. Menjelang pesta perak imamat Rm. Matheus Purwatma, saya tergerak untuk menelusuri butir-butir pengalaman mengesan bersama dan tentang beliau. Rentetan pengalaman itu bisa saya klasifikasikan dalam beberapa ketegori, yaitu Rm. Purwatma sebagai Staf Seminari, Wali tingkat, Pembimbing Rohani, Dosen, rekan sekerja, dan rekan seimamat. 

1.      Staf Seminari

Ketika saya memasuki Seminari Tinggi St. Paulus, pada pertengahan tahun 1991, Rm. Purwatma merupakan staf Seminari yang baru satu tahun pulang dari studi di Roma. Pada waktu itu Rm. Purwatma menjadi wali tingkat I. Keutamaan yang tampak dalam kehidupan Rm. Purwatma sebagai wali tingkat I pada saat itu adalah kehadiran dalam dinamika angkatan, kerendahan hati, kesederhanaan dan ketekunan. “Keutamaan rendah hati dan kesederhanaan tampak dari cara beliau menyampaikan gagasan dan pemikiran.” Dalam mendampingi para seminaris, sejauh yang saya alami secara pribadi maupun dalam pendampingan tingkat, Rm. Purwatma menempatkan diri sebagai saudara yang hadir, menyapa dan berjalan bersama. Kehadiran itu tampak juga dalam hidup berkomunitas baik dalam acara bersama maupun dalam rekreasi. Ketika saya menjadi seminaris di Seminari Tinggi St. Paulus (1991-1998), Rm.Purwatma sering bermain bridge bersama di kursi hijau.

Kata-kata yang sering digunakan oleh Rm. Purwatma saat menyampaikan gagasan dalam pertemuan-pertemuan bersama adalah ‘kiranya”. Sekilas, kata kiranya memberi kesan bahwa si pembicara kurang mantap terhadap apa yang disampaikan. Kritik seperti ini beberapa kali saya dengar dari kakak kelas yang pernah mengikuti kuliah dengan Rm.Purwatma. Namun, penggunaan  istilah tersebut sebenarnya menggambarkan kerendahan hati dan sikap terbuka untuk berdialog yang dihayati oleh Rm. Purwatma. 

Dialog dan menghargai perbedaan menjadi salah satu tema penting yang menjiwai hidup Rm.Purwatma baik dalam tindakan maupun gagasan-gagasan yang diartikulasikan dalam banyak karangan. Tentu saja dialog  bukan merupakan tujuan melainkan sebagai sarana dan cara menggereja, dan menghidupi imamat dalam pelayanan. Saya menemukan bahwa Gereja atau lebih tepatnya menggereja merupakan salah satu kata kunci dalam hidup dan penghayatan imamat Rm.Purwatma.

 

  1. Pembimbing Rohani

Pada awal semester tahun 1991, saya memilih pembimbing Rm. Hari Wartono, SJ sebagai pembimbing rohani saya. Pada awal tahun 1992, Rm. Hari Wartono, SJ menjalani cuti selama satu semester ke Jerman. Pada saat itu saya segera memilih Rm. Purwatma yang sudah saya kenal satu semester sebagai wali tingkat I untuk menjadi pembimbing rohani saya. Selama lebih dari enam tahun saya mengalami kehadiran Rm. Purwatma menjadi pembimbing rohani (sahabat rohani) dan Bapa pengakuan. Pada saat bimbingan, Rm. Purwatma memberi kebebasan bagi saya untuk menyiapkan pengalaman-pengalaman yang akan diolah.  Biasanya saya menyiapkan bahan bimbingan di dalam buku refleksi harian saya. Simpul-simpul pengalaman rohani selama kurang lebih satu bulan itulah yang menjadi bahan sharing rohani. Rm. Purwatma memberi tanggapan seperlunya dan kadang memberi bahan yang bisa dijadikan bahan permenungan untuk bulan berikutnya.

Hal penting yang mewarnai pengolahan selama bimbingan rohani adalah ajakan untuk meletakkan pengalaman dan pergulatan rohani dalam kaitannya dengan panggilan dan perutusan dalam  Gereja dan masyarakat. Pada tahun-tahun awal bimbingan rohani, saya diajak untuk melihat minat, keprihatinan dan cita-cita pribadi dalam kaitannya dengan kebutuhan Gereja. Pada tahun-tahun sesudah menjalani Tahun Orientasi Pastoral, Rm.Purwatma mengingatkan komitmen saya untuk siap diutus oleh Gereja, termasuk kemungkinan kalau Gereja mengutus untuk tugas studi demi pelaksanaan pelayanan serta tugas yang akan dipercayakan kepada saya. Kendati demikian, saya tetap diingatkan bahwa studi atau belajar pertama-tama perlu ditempatkan dalam rangka kepentingan pelayanan dalam Gereja dan bukan sekedar menjadi obsesi pribadi.

Selama bimbingan rohani, terbangun suasana bersaudara yang meneguhkan dan ajakan untuk lebih banyak bersyukur. Salah satu doa sering disarankan kepada saya untuk didoakan adalah Doa Magnificat. Kata-kata yang disampaikan oleh Rm.Purwatma lugas, sederhana dan konkrit. Harta rohani yang saya timba bersama Rm.Purwatma dalam bimbingan rohani dan hidup bersama adalah spiritualitas hidup sederhana, tekun, setia, penuh syukur dan bersaudara. Spiritualitas  itu menjadi dasar untuk menghayati imamat dan pelayanan  dalam dialog.

  1. Dosen

Pada tahun 1993, Rm. Berth, SCJ, dosen eklesiologi, sakit kanker. Beliau meninggalkan Indonesia untuk berobat ke Belanda. Sebagai pengganti, mata kuliah eklesiologi diampu oleh Rm. Purwatma. Maka, ketika saya memasuki semester VI (1994), saya berkesempatan diajar oleh Rm. Purwatma. Kuliah eklesiologi memberi wawasan luas tentang paham-paham Gereja dalam sejarah, mulai Gereja perdana sampai dengan Konsili Vatikan II. Salah satu pertanyaan dalam ujian tengah semester yang masih saya ingat adalah “apakah Yesus Kristus mendirikan Gereja?” Pertanyaan itu sebenarnya ingin menggali pemahaman mengenai hubungan Yesus Kristus dan Gereja.

Memasuki Semester X, saya mendapat kesempatan untuk belajar soteriologi yang diampu oleh Rm. Purwatma. Tema penting yang masih terngiang dalam ingatan saya adalah soal paham kodrat dan rahmat dalam pemikiran Agustinus dan Pelagius serta problematika paham keselamatan zaman reformasi. Sejauh saya alami, sebagai dosen Rm.Purwatma menyampaikan pengajaran secara sederhana dan sistematis. Pemikiran-pemikiran yang ditulis dalam diktat tidak sangat rumit untuk dipahami. Sentuhan pamungkas Rm. Purwatma sebagai dosen saya alami ketika beliau menjadi pembimbing II skripsi saya. Pertengahan bulan Februari 1997 saya menyerahkan draf terakhir skripsi saya setelah disetujui oleh pembimbing pertama. Dalam waktu yang sangat singkat, saya bisa menerima kembali draf skripsi yang sudah dikoreksi, sehingga pada tanggal 19 Maret 1997 saya sudah bisa menjilid skripsi saya.

Kajian terhadap cara menggereja dan karakter Gereja Asia menjadi salah satu tema yang mewarnai pergumulan, perhatian dan pemikirannya akhir-akhir ini.  Dalam beberapa karangan,[i] tema dialog, penghargaan terhadap keragamaan dan usaha untuk menanamkan Injil secara kontekstual di benua Asia merupakan refren yang terus menerus digaungkan. Dua tahun yang lalu, ketika Rm.Purwatma menjalani sabatikal, kesempatan untuk mengalami realitas Gereja Asia yang merupakan lahan tumbuhnya nilai-nilai iman Kristiani melalui dialog menjadi lebih hidup berkat kunjungan studinya ke Sri Lanka, India dan Philipina.

  1. Rekan Sekerja

Sejak bulan September 2003, saya ditugaskan untuk menjadi Staf di Seminari Tinggi St. Paulus dan dosen di Fakultas Teologi Sanata Dharma.  Sejak itu pula saya tinggal sekomunitas dengan Rm.Purwatma dan mengajar di tempat yang sama. Kehadiran dan keberadaan Rm. Purwatma saya alami tidak hanya sebagai teman kerja namun teman sekerja (dalam panggilan dan perutusan Tuhan). Kami tidak hanya bekerjasama tetapi bersatu dalam perutusan yang sama. Perjumpaan dengan Rm.Purwatma tidak hanya terjadi pada saat mengerjakan tugas bersama, melainkan juga saat mengemban keprihatinan dan syukur atas perutusan yang sama. Secara konkret, perjumpaan dengan Rm.Purwatma saya alami baik dalam suasana formal dan informal.  Perjumpaan di ruang makan, ruang baca, dan pada saat bersepeda ria bersama merupakan kesempatan untuk berbagi kehidupan.

Sebagai teman sekerja di Seminari dan di Fakultas Teologi, Rm. Purwatma memberi kesaksian bahwa perutusan (kepercayaan) harus dipertanggungjawabkan dengan tekun, teliti, penuh dedikasi dan setia. Setiap kali, saya masuk ruang kerja di fakultas, saya melihat Rm. Purwatma bertekun dalam kantornya. Dalam hal ketekunan, kesetiaan, dan dedikasi saya masih harus belajar banyak pada Rm. Purwatma. Dalam rapat-rapat dan berbagai kesempatan pertemuan, Rm. Purwatma menyampaikan kepeduliaan, keprihatinan, gagasan, dan pemikirannya secara jernih dan berorientasi pada perkembangan Gereja.

Kiprah Rm. Purwatma bagi perkembangan Gereja tidak hanya terbatas di Seminari Tinggi dan Fakultas Teologi. Rm. Purwatma terlibat aktif dalam Dewan karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, menjadi anggota seksi Seminari Tinggi, Komisi Seminari KWI dan anggota Pleno Komisi Kateketik KWI. Kendati berkiprah secara luas, Rm. Purwatma tetap memilih mengutamakan tugas utamanya sebagai dosen di Fakultas Teologi dan Staf Seminari Tinggi St.Paulus. Komitmennya terhadap perkembangan Gereja menjadi jelas dalam pelayanan penuh dedikasi di Fakultas Teologi, Seminari Tinggi St. Paulus dan dalam karya Gereja Keuskupan Agung Semarang serta Gereja Indonesia.

 

  1. Rekan Seimamat

Pada tahun 1999, saya diutus untuk mempersiapkan studi lanjut ke Roma. Ketika mendekati hari-hari keberangkatan ke Italia, saya sangat gelisah dan cemas. Ini merupakan pengalaman pertama saya akan pergi jauh. Jangankan pergi keluar negeri, ke luar Jawa pun belum pernah. Hari-hari terakhir menjelang berangkat, saya merasa lebih tenang dan aman karena ternyata Rm. Purwatma mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan di Belgia dan akan berangkat bersama dengan saya melalui Roma. Pada tanggal 28 Juli, kami meninggalkan Indonesia menuju ke Roma dan tiba di sana tanggal 29 Juli dijemput di Bandara oleh Rm. Hari Kustono. Perjalanan ke Italia bersama Rm. Purwatma saya rasakan sebagai perjalanan misioner. Kami pergi bersama sebagai imam Keuskupan Agung Semarang yang sedang menjalankan perutusan Gereja. Suasana persaudaraan dan ikatan panggilan-perutusan dalam Gereja lebih kuat dibandingkan bayang-bayang relasi antara murid dan pembimbing (mantan wali tingkat, pembimbing rohani, dosen dan pembimbing skripsi saya).

Pengalaman iman dan persaudaraan dalam imamat terasa sangat kuat ketika saya, Rm. Purwatma dan Rm. Hari Kustono memasuki Basilika St.Petrus dan berdoa di sana. Saya bersyukur karena anugerah imamatlah yang menghantar saya untuk menginjakkan kaki saya di kota suci Roma.  Pada tanggal 31 Juli Rm. Purwatma mengantar saya sampai Verona, tempat kursus bahasa Italia. Saya sangat beruntung diantar sampai di sana dan bergabung dengan teman-teman dari berbagai negara yang akan memulai kursus bahasa sebagai persiapan studi.  

Kendati selama di Roma saya tidak pernah berkirim surat dengan Rm. Purwatma, kontak dengan beliau tidak pernah putus. Maneges (News Letter) yang dirintis oleh Rm.Purwatma dan beberapa frater seminari Tinggi St.Paulus (yang berasal dari Baturetno-Danan) menjadi sarana untuk menyatukan hati dan persaudaraan dalam penggilan. Maneges kiranya bisa ditempatkan sebagai salah satu model menggereja melalui hidup bersaudara dan berdialog dalam konteks pengalaman hidup sehari-hari (saling berbagi pengalaman dalam melaksanakan panggilan-perutusan).  Kendati Maneges sudah hampir satu tahun tidak terbit, suasana persaaudaraan dan berbagi pengalaman sudah mulai tertanam dalam hati teman-teman sepanggilan tidak hanya yang berasal dari paroki Baturetno dan Danan namun juga Wonogiri. News Letter berkembang menjadi perjumpaan yang secara rutin dilaksanakan setiap tanggal 27 Desember.  Gereja akan semakin hidup dan panggilan menjadi subur ketika persaudaraan dihidupi dan dihidupkan dengan tekun, setia dan kontinyu.  Itulah semangat maneges yang dirintis dan diperjuangkan oleh Rm.Purwatma dan teman-teman sepanggilan dari paroki Baturetno, Danan dan Wonogiri. Semangat persaudaraan itu tampak dari kehadiran  Rm.Purwatma dalam acara para rama rayon Sleman (Slemania) yang diadakan setiap Minggu II.

            Selama dua puluh tahun Rm. Purwatma menghayati imamatnya dengan tekun, setia dan sederhana. Rm. Purwatma adalah staf Seminari terlama kedua sesudah Rm. St. Darmawijaya. Hidup dan karya Rm. Purwatma di seminari sudah  memasuki tahun kesembilan belas. Selama ini tidak tampak adanya tanda-tanda kebosanan, keluhan atau kekendoran semangat dalam menjalankan tugas. Kekuatan yang sangat menonjol dalam hidup dan penghayatan imamat Rm. Purwatma adalah semangat dan pilihan hidup sederhana. Kedalaman hidup dibangun melalui hidup sederhana. Rm. Purwatma telah membuktikan bahwa kesederhanaan merupakan tanda kemendalaman hidup dan spiritualitas imamat. 

Selamat merayakan pesta perak imamat. Semoga berkahnya melimpah dan mengobarkan para generasi muda untuk mengembangkan model menggereja yang berakar pada spiritualitas kesederhanaan, persaudaraan, dan dialogal di tengah arus konsumerisme, individualism dan tantangan perpecahan bangsa.

 

CB. Mulyatno



[i]              Sebagian besar tulisan-tulisan Rm. M. Purwatma   menggenamakan semangat dialog, hidup bersaudara dan menghargai perbedaan ( “Eklesiologi communion dan Hukum Kanonik 19983”, dalam Orientasi Baru (1997); “Ragi dalam Adonan Asia: Evangelissasi Gereja untuk  Perubahan”,  dalam Orientasi Baru (1999); “Persekutuan Paguyuban-paguyuban: menggereja dalam konteks masyarakat majemuk”, dalam Orientasi Baru (2000); “Paradigma Kajian keagamaan dalam pluralitas umat”, dalam Orientasi Baru (2007); “Gereja Kristus, Gereja Katolik dan Gereja-Gereja”, dalam Diskursus (2007).


0 Responses to “Model Menggereja dan Penghayatan Imamat Rm. M. Purwatma”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: