28
Jan
09

Menjadi Teman Seperjalan yang Mau Memahami

(Edisi Pesta Perak Imamat Rm. Purwatma, Pr)

 

‘Hidup harus terus berlanjut”, begitulah kira-kira kata-kata Rm. Kieser dalam suatu sesi kuliah yang mengingatkan saya untuk senantiasa memaknai hidup dan peziarahan panggilan saya. Kata-kata ini, mengawali tulisan saya sebagai kesan pribadi saya terhadap Rm. M. Purwatmo Pr yang merayakan ulang tahun imamatnya yang ke-25. 25 tahun imamat tentu bukanlah masa yang singkat untuk sebuah komitmen dalam perjalanan peziarahan imamat dan juga bukan masa yang singkat untuk berbuat dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi Gereja dan masyarakat.

 ‘Hidup dan panggilan mestilah berbuah!’ Keyakinan dan optimisme inilah yang saya bawa ketika diminta menuliskan tentang kesan-kesan pribadi terhadap beliau, walau terus terang, saya sendiri merasa belum mengenal Rm. Purwatmo secara mendalam karena intensitas perjumpaan saya dengan beliau yang saya rasa masih terbatas. Namun demikian, saya ingin membagikan sedikit refleksi atas perjumpaan saya dengan beliau.

Tentang Rm. M. Purwatmo, Pr.

Namanya pertama kali saya dengar ketika saya sedang mengikuti solisitasi untuk menjadi seorang calon imam Keuskupan Agung Semarang pada bulan Maret 2000. Waktu itu (hingga kini), beliau adalah salah satu staf di Seminari Tinggi St. Paulus. Saya belum sungguh mengenal beliau. Bahkan, ketika saya sudah menjadi anggota di komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, saya pun masih merasa belum begitu mengenal beliau. Beliau memang pernah menjadi pendamping angkatan ketika saya masih berada di tingkat V. Tetapi, perjumpaan dengan beliau masih serasa ada dalam jalur formal formatio. Meskipun saya sempat merasakan aura kebapakannya dalam proses formatio. Kesan belum sungguh-sungguh mengenal beliau masih terasakan. Perjumpaan kami sangat terbatas. Sementara itu, perjumpaan yang lain masih terasa begitu formal: perjumpaan dalam ruang kuliah, di saat saya belajar berteologi, khususnya dalam bidang Kristologi. Namun, dalam ranah inilah, saya merasa Rm. Purwatmo telah membantu saya untuk berefleksi mengenai iman akan Yesus Kristus.

Tentang “Memahami”

Salah satu hal yang mengesan dalam diri Rm. Purwatmo adalah keterbukaannya akan pribadi orang lain dengan pergulatannya masing-masing. Beliau mau belajar untuk memahami dan menghargai perbedaan dan keunikan masing-masing pribadi. Kalau boleh saya katakan, beliau mau menunjukkan kepada saya bahwa “Memahami perbedaan itu merupakan sarana yang baik untuk saling memahami satu sama lain”. 

“Memahami”, sebagai salah satu keutamaan dalam diri Rm. Purwatmo, saya artikan sebagai sikap mau masuk dalam pergulatan yang dialami orang lain. “Memahami” berarti “berusaha mengenal dan dekat secara personal”. Saya tidak mau mengandaikan bahwa Rm. Purwatmo mengenal dan dekat dengan semua frater yang pernah menjalani masa formatio di Seminari Tinggi. Tetapi, saya yakin bahwa sebagai seorang staf pendamping dan wali tingkat, beliau berusaha untuk dekat dan mengenal para frater secara personal, entah kepribadian, minat, maupun pergulatan yang sedang dihadapi para fraternya. “Memahami” mengandaikan kehadiran. Saya pun melihat usaha beliau untuk hadir di tengah-tengah para frater. Hal ini mengesan bagi saya  karena beliau merupakan salah satu di antara ‘sedikit’ staf Seminari Tinggi yang rajin hadir dalam kesempatan-kesempatan doa bersama maupun acara-acara komunitas. Kehadiran inilah yang saya rasakan sebagai wujud perhatiannya pada komunitas dan secara khusus menjadi bentuk kesaksian komitmen dalam pendampingannya.

Secara khusus, kehadiran dan pendampingan beliau saya rasakan saat beliau menjadi wali tingkat angkatan saya (waktu saya tingkat V). Secara pribadi, saya merasakan kehadirannya baik sebagai seorang bapak yang mau mengarahkan dan mendengarkan pergulatan anak-anaknya maupun sebagai seorang teman seperjalanan yang mau menemani dan mendukung dalam pengolahan hidup panggilan, termasuk saat beban formatio dan pendidikan terasa ‘berat’. Tidak jarang ia hadir dan memberi sumbangan rohani yang meneguhkan. Saya masih ingat ketika pada suatu saat setelah daftar ulang dan mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) di salah satu lorong FTW, beliau spontan berkomentar kepada saya,”Walau sibuk, jangan lupa sesekali mancing untuk refreshing. (mancing adalah salah satu hobi saya)” 

“Memahami” juga saya artikan sebagai sikap menghargai kebebasan dan pilihan yang diambil oleh orang lain. Namun, beliau juga tetap memberikan sumbangan positif bagi perkembangan iman dan panggilan orang lain. Secara konkret, beliau selalu mengajak orang untuk meninjau kembali, merefleksikan dan memikirkan lagi perjalanan batiniahnya sendiri.  Sebagai seorang frater yang pernah mendapatkan pendampingan beliau, saya merasa dibantu untuk mengenali pergulatan hidup dan panggilan saya. Saya merasa diingatkan bahwa bukan hanya saya yang berperan di dalam pergulatan hidup dan panggilan yang sedang saya jalani. Sejauh saya refleksikan, ada tiga pelaku utama yang berperan di dalam pengolahan hidup dan panggilan. Pelaku pertama adalah Roh Kudus. Dia yang pertama-tama menuntun panggilan. Pertanyaan reflektifnya ialah, “Apakah yang sesungguhnya dikehendaki Roh Kudus supaya aku perbuat di dalam peziarahan panggilanku ini?  Ke manakah Ia akan menuntun aku?” Di sinilah beliau mengajarkan agar saya semakin percaya pada bimbingan Roh Kudus yang mengarahkan dan menuntun hidup saya. Pelaku kedua adalah diri saya sendiri sebagai subyek yang bertanggung jawab atas perkembangan diri dan panggilan. Di sinilah, saya merasa didampingi untuk sungguh-sungguh mengalami kebebasan dan menghidupi komitmen yang telah saya pilih. Ketiga adalah komunitas di mana saya berada. Tak bisa dipungkiri bahwa tumbuh berkembangnya panggilan juga dipengaruhi oleh lingkungan (komunitas). Namun demikian, saya pun merasa diingatkan bahwa panggilan yang telah tumbuh dan berkembang di tengah komunitas juga akan kembali mengarah kepada  komunitas itu sendiri. Dalam hal ini, saya diingatkan bahwa panggilan yang tengah saya geluti mestilah tetap memperhatikan gerak komunitas di sekitar saya. Secara konkret, Gereja yang telah membuat saya bertumbuh dalam iman dan panggilan juga membuat saya sadar bahwa hidup dan panggilan saya pun diharapkan turut berperan di dalam pertumbuhan dan perkembangan Gereja.

“Memahami” dalam konteks tertentu juga mau menunjukkan kepada saya bahwa pergulatan panggilan tidak serta merta melalui jalan yang rata seperti yang diharapkan oleh kebanyakan orang. Namun, Rm. Purwatmo mengajarkan bahwa di dalam pergulatan panggilan, saya tetaplah manusia biasa yang bisa mengalami kecemasan, kekeliruan, dan kegagalan. Panggilan itu mesti terus dihidupi secara bertahap agar semakin mendalam walaupun tetap ada kesadaran akan banyaknya kekurangan untuk setia pada panggilan. Memang tidak mudah untuk setia, apalagi pada akhir tahun tingkat V, banyak teman saya yang menempuh ‘jalan panggilan  lain’. Sebagai teman seperjalanan, saya yakin, Rm. Purwatmo pun mengalami pergulatan. Tetapi, biarlah Roh Kudus berkarya dengan caranya yang mungkin tidak mudah dipahami manusia.

Panggilan memang merupakan misteri yang kadang tidak mudah untuk dipahami: kadang datang mendekati dan “menggoncangkan” kita. Memang tidak gampang! Panggilan bukanlah seperti program yang dapat seenaknya kita buat walau di satu sisi memang tergantung dari diri kita juga. Kehadiran Rm. Purwatmo yang selalu terbuka dan mau “memahami” saya rasakan sangat membantu saya sungguh-sungguh mempersiapkan dan mengolah diri dalam panggilan: dalam inisiatif dan kepasrahan, bersiap menerima kejutan yang dinyatakanNya di dalam setiap jejak langkah peziarahan panggilan.

Waktu selama 25 tahun ini, bagi saya, menjadi kesaksian akan komitmen pribadinya akan pergulatan imamat, terutama dalam menghayati hidup selibat. Saya masih ingat saat dalam suatu acara rembug komunitas, beliau pernah mengatakan bahwa jikalau seorang imam ataupun calon imam sudah mampu mengatasi pergulatan panggilannya di dalam selibat yang memang tidak mudah, maka yang lain akan segera mengikuti. Artinya, kalau seorang imam atau calon imam sudah berdamai dan enjoy dengan hidup selibat, maka segala sesuatu yang lain akan lebih mudah dijalani.

Tugas dan Karyanya

Di dalam kesederhanaan pribadinya, ternyata Rm. Purwatmo memiliki seabrek tanggung jawab yang mau tidak mau menyita waktu dan perhatiannya.  Beliau ditugaskan sebagai staf di Seminari Tinggi St. Paulus, menjadi dosen, ketua Program Magister Teologi di Universitas Sanata Dharma, fasilitator untuk Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, anggota seksi Seminari Tinggi Komisi Seminari KWI, dan anggota pleno Komisi Kateketik KWI. Selain itu, di kalangan para mahasiswa Fakultas Teologi Wedhabakti (FTW), Rm. Purwatmo dikenal sebagai seorang Teolog Asia. Beberapa kali beliau ambil bagian dalam pertemuan-pertemuan FABC. Melihat kesibukannya, saya tergelitik untuk mencari tahu apakah Rm. Purwatmo pernah mengarang buku sebab sejauh ini saya hanya dapat membaca beberapa tulisan beliau. Sebagai seorang teolog Asia, amat disayangkan jika Rm. Purwatmo tidak membagikan buah-buah pemikirannya bagi banyak orang.

Meskipun mengampu untuk mata kuliah Kristologi dogmatik, saya amat terkesan saat  Rm. Purwatmo juga memiliki perhatian di bidang Ekklesiologi. Perhatian ini pulalah yang kiranya mendorong beliau begitu memperhatikan komunitas basis. Bagi saya, beberapa tulisan beliau, “Menggali Spiritualitas Komunitas Basis yang Berakar pada Budaya” di dalam buku Ketika-Ketika Kitab Suci: Kado Panca Windu Imamat Rm. St. Darmawijaya, Pr, “Merendahkan Diri dan Menjadi Seorang Hamba: Menemukan Makna Yesus dalam Konteks Masyarakat Asia” dalam kumpulan karangan Jalan Terjal, dan “Kristologi dan Budaya Kehidupan” menunjukkan bahwa beliau memang peduli pada dinamika hidup komunitas-komunitas basis, sebagaimana sering kali didengungkan di dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang. Ada beberapa poin penting terkait dengan komunitas basis yang ingin disampaikan oleh Rm. Purwatmo. Pertama, umat beriman mestinya membuat hidup dan imannya berbicara di dalam realitas konkret sehari-hari. Dalam hal ini, hidup menggereja yang dinamis menyentuh sampai pada komunitas akar rumput, yakni komunitas orang-orang miskin. Kedua, komunitas (basis) Gereja yang hidup adalah komunitas yang mendengarkan dan menghidupi Sabda. Bagi orang Kristiani, hidup haruslah dibimbing oleh nilai-nilai Injil dan biarlah Injil, sabda Allah, berbicara kepada kita. Sabda memang tertulis di dalam Kitab Suci, tetapi Sabda itu juga yang kita wartakan dalam hidup. Ketiga, ungkapan iman mestinya berpangkal dari pengalaman konkret rakyat di tingkat akar rumput. Dalam hal ini, iman yang hidup tampak di dalam paguyuban yang saling berbagi di dalam mengatasi persoalan-persoalan kehidupan.

Salah satu contoh menarik dapat saya lihat ketika Rm. Purwatmo merefleksikan pengalaman konkret dinamika hidup beriman umat di Paroki Sumber di lereng Gunung Merapi. Sementara ada orang-orang yang mencibir atau menilai negatif apa yang hidup di tengah komunitas tersebut, Rm. Purwatmo justru memberikan penghargaan atas kearifan budaya lokal yang diusung dan digunakan sebagai sarana olah rohani umat.  Secara konkret, dukungan dan penghargaan ini ditampakkan dengan usaha beliau memberikan dasar-dasar teologis bagi gerak dinamis yang hidup di tengah komunitas kecil lereng. Dengan keterbukaannya, beliau mendengarkan dan menghidupi Sabda; menemukan otentisitas di dalam penghayatan dan pengungkapan iman kristiani mereka.

Sebagai seorang frater yang pernah menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral di Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KAS, saya merasa terkesan dengan perhatian teologis beliau bahwa Gereja mestilah bersentuhan dengan budaya dengan merayakan liturgi kehidupan (bukan hanya liturgi kultis!). Gereja harus memaknai imannya dengan menghadirkan keberpihakan Kristus pada orang-orang kecil, miskin, dan tersisih di dalam masyarakat. Dengan ini, bukan berarti penghayatan iman mendorong orang untuk memilih pelayanan yang paling rendah, kedudukan yang kurang cemerlang, kondisi lahiriah yang paling sederhana. Namun, hendalah iman mendorong orang untuk berani memiliki dalam hati kerinduan untuk berada, sedapat-dapatnya di mana Dia berada. Hal ini secara konkret terwujud dalam kesediaan untuk berbagi dengan yang lain, baik dalam penghayatan dan pendalaman iman maupun di dalam kehidupan konkret sehari-hari. Dengan demikian, ‘pengalaman dan persekutuan dan berbagi‘ dapat ditampilkan ketika mereka menjadikan persoalan-persoalan hidup, kisah-kisah hidup sebagai pengalaman dan kisah bersama’.

Sebagai penutup, saya merasa turut bergembira atas peziarahan imamat yang selama 25 tahun telah dijalani oleh Rm. Purwatmo dengan setia. Semoga pengalaman iman dan peziarahan panggilan yang Romo bagikan dapat semakin memperindah kisah dan pergulatan hidup bersama di komunitas Seminari Tinggi dan Gereja pada umumnya. Proficiat Romo!

 

Fr. Krismanto

Calon Imam Praja Keuskupan Agung Semarang

Tingkat VI tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus


0 Responses to “Menjadi Teman Seperjalan yang Mau Memahami”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: