07
Des
08

Cerita Waktu Pulang

Ada yang pernah berkata bahwa musik adalah jembatan untuk mencapai kedamaian jiwa.  Aku pernah menyangsikannya. Siapa yang menyangka susunan angka-angka itu bisa mengisi hati yang kata orang bisa membawa perubahan buat dunia. Sekali lagi, dulu aku pernah menyangsikannya. Bahkan, aku juga pernah mendengar seorang tokoh dunia yang mengatakan bahwa musik merupakan lambang dari dunia harmonis, Kosmos.

Kesangsianku berubah ketika aku mengenal seseorang yang memberikan benda ini. Benda berat dan panjang. Bentuknya seperti bilah kerucut dari logam. Penuh dengan pencetan-pencetan tidak jelas. Tidak simetris dan tak teratur. Pertama kali, aku mengangkatnya, mungkin beratnya sepersepuluh dari berat tubuhku waktu itu. Maklum, saat itu, aku menjadi anak gembala, kurus kering tubuhku. Lidahku pun belum terlalu gamblang mengucapkan kata saxofon. Namun, sejak memegangnya, aku juga mulai berkenalan dengan bunyi-bunyi teratur. Musik!

“Ini saxofon sopran. Bentuknya paling panjang. Tapi, suaranya…emmm” begitu kata orang yang memberikan benda ini kepadaku dulu sambil mengajungkan jempol tangannya.

 Orang sering memanggilnya Romo Van Stook. Hidungnya mirip saxofon. Itu sebabnya, dia sungguh senang membawa barang kesayangannya kemana-mana. Mungkin, itu citra diri. Dia bukan orang yang mempunyai kulit coklat sepertiku. Matanya yang coklat tapi kulitnya putih. Orang sekampungku sungguh menundukkan kepala saat berjumpa dengannya. Bahkan bapak-simbokku juga harus menurunkan derajat mereka saat bicara dengan orang asing itu.

saxofon adalah alat musik pemberontak. Dia harus mau terima saat tidak diterima dalam kalangan pencinta klasik. Dia tidak mau diatur. Senang bebas meliuk-liukkan nada. Bunyinya indah saat mengisi ruang kosong. Suaranya yang kadang melengking membuat orang harus menggigit bibir bagian bawah. Aku menganggapnya saat itulah sopran menampilkan keanggunannya. Maksudku saxofon sopran ini. Yang kukatakan ini adalah pendapat pribadiku. Maaf, aku terlalu sayang pula  dengan benda ini sampai-sampai menganggapnya terlalu spesial.

Suatu sore, aku tidak sengaja mendengar suara aneh ketika selesai menggiring kambing-kambingku pulang mencari makan. Kutelusuri jejak suara itu. Lama-kelamaan alunan suara membawa aku ke sebuah gereja kecil. Gereja itu gerejaku pula. Tempat dimana Romo Van Stook tinggal. Tepatnya, dia tinggal di sebuah rumah di belakang gereja. Tapi sore itu, aku melihatnya di dalam gedung gereja yang kosong. Tidak ada umat sama sekali. Aku mengintip lewat pintu samping. Kebetulan, saat itu, sedang terbuka sedikit.

Dia tampak sibuk memencet dan memencet koin-koin yang ditempel di sepanjang benda panjang. Mulutnya seakan-akan meniup seperti Simbok meniup bambu kecil untuk membesarkan api pada tungku. Aku heran untuk pertama kalinya. Benda panjang itu bisa bunyi. Tidak pernah aku melihat alat musik seperti itu. Karena, waktu itu, aku hanya tahu kalau benda-benda yang bisa berbunyi adalah benda-benda yang dipukul. Saron, demung, slenthem, bonang, peking, gong, kendang,…semuanya dipukul to? Bukan dipencet dan ditiup seperti itu.

Seperti tahu akan ada cecunguk kecil yang ada di gereja, Romo Van Stook berhenti bermain. Dia menoleh ke arahku. Dia mencoba menghampiriku. Aku lari terbirit-birit. Takut kalau-kalau dia datang untuk marah padaku karena aku mengganggunya. Tapi, yang aku tahu Romo Van Stook tidak pernah marah dengan anak-anak sebayaku. Dia sangat bersahabat dengan kami. Kami berlomba-lomba bersalaman dengannya setelah misa. Semua anak medapat giliran salaman, lalu Romo Van Stook memberi beberapa pertanyaan dan yang bisa menjawabnya diberi permen manis. Permen yang spesial karena lidah kami terbiasa dengan ngemut gula jawa. Tapi, mengapa saat itu aku sungguh takut. Padahal, ia mengejar aku dengan tersenyum.

Aku jadi tuman mendengarkan Romo Van Stook bermain saxofon. Aku sengaja melepas kambing-kambingku di belakang gereja. Kebetulan di sana banyak rumput. Toh, Romo Van Stook juga kurang waktu untuk mencabuti rumput-rumput itu. Disamping kambing-kambingku kenyang, aku juga menikmati gratis mendengarkan suara yang membuat damai hatiku. Selama aku mengikuti lagu-lagu yang dimainkan Romo Van Stook, ada satu lagu khusus yang menjadi penanda aku pulang. Ia selalu memainkannya beberapa menit setelah azan magrib dan lonceng gereja. Setelah lagu selesai, aku baru memulangkan kambing-kambing ke kandang. Itulah lagu yang senantia kunanti tiap hari.

Ada satu sore dimana Romo Van Stook tidak memainkan saxofonnya. Aku kecewa berat. Tidak ada suara yang menjadi hiburanku menggembalakan kambing-kambing setelah pulang sekolah. Aku mengira Romo Van Stook sakit hingga tidak bisa melangsungkan ritualnya bermain saxofon di sore hari. Aku mencoba mencari tahu mengapa. Dengan sedikit takut-takut, aku masuk gereja melalui pintu samping yang dikunci hanya waktu malam.

Aku heran ketika menjumpai Romo Van Stook duduk diam dengan saxofon di tangannya. Kupandangi dia, tampaknya sedang kosong. Ia melamun. Akhirnya, dia sadar untuk kedua kalinya ada cecunguk kecil yang masuk ke gereja. Kali itu, dia membiarkan aku memandangnya. Tentunya sambil tersenyum seperti tempo lalu. Setelah agak lama, aku menjadi tenang. Tampaknya tidak akan terjadi apa-apa denganku. Romo Van Stook tidak mungkin marah denganku.

“Tomo, masuk” sapanya dengan sungguh ramah. Aku tak menyangsikannya lagi. Tak terpikir kambing-kambingku, aku masuk ke gereja menjumpai Romo Van Stook.

Dalem Romo…”

“Tiap sore aku menunggumu. Aku memanggil-manggil kamu. Berharap ketika kamu mendengar suara alat musik ini, kamu mau datang lagi.”

Nyuwun ngapunten Romo,” aku menjadi kikuk. Aku menjadi diam. Tidak pernah aku berbicara dengan Romo Van Stook sedekat itu. Namun, lebih dari itu, aku benar-benar terpana saat melihat benda ditangan Romo Van Stook. Aku pertama kalinya melihat lekuk saxofon. Sungguh mempesona.

Romo Van Stook mengurkan tangannya. Memberikan saxofon itu kepadaku. Aku disuruhnya memegang dan akhirnya saxofon itu pindah tangan. Aku semakin terpana. Tanganku terlalu kotor untuk memegang logam yang mengkilat itu.

“Setidaknya ada tiga jenis saxofon. Alto, tenor, sopran, dan baby –itu yang kecil-. Berapa umur kamu?” tanya Romo Van Stook membuyarkan rasa kekaguman dan kahayalanku untuk bisa memainkannya. Ia mempersilakan aku duduk di sampingnya; di depan patung Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Sang Penebus.

“Empat belas Romo” jawabku.

“Saat umurku tujuh belas tahun, Bapak memberikan ini kepadaku. Katanya tidak ada yang akan meneruskan Bapak untuk memainkan alat musik ini kecuali aku. Bapakku dulu tukang musik seperti bapakmu yang pandai bermain bonang. Dia ingin aku menjadi tukang musik sepertinya; menjadi peniup saxofon.” Aku manggut-manggut mendengar ceritanya.

“Aku senang bisa meniupnya. Bapak dengan telaten mengajari aku hingga aku sedikit bisa memainkan lagu yang biasa bapakku mainkan. Namun, aku meninggalkan alat musik ini ketika masuk pendidikan untuk menjadi romo. Aku sempat membawanya pertama kali di sekolah para calon imam. Tapi, kata Romo yang mendampingi aku, biola, piano atau flute lebih cocok untukku. Mungkin, karena dia tidak senang dengan kebisingan. Alat musik ini kan terlalu keras. Aku tidak bisa mengelak. Berapa puluh tahun aku tidak menyentuhnya. Baru kemarin itu, aku meminta adikku mengirimkannya ke Jawa.”

 Romo Van Stook tampak sangat bersemangat menceritakan pengalamannya. Aku masih saja terpaku menatap benda asing di tanganku. Cepat-cepat aku memimpikan untuk dapat memainkannya. Tapi, aku takut untuk meminta Romo Van Stook mengajariku. Namun, nampaknya ia tahu kegelisahanku. Ia mengambil saxofon itu dari tanganku. Mengajari caranya memegang yang benar dan posisi bibir yang pas untuk mengepit bilah bambu tipis.

“Namanya rit, rit ini harus tepat pada tempatnya –legatur- lalu kalau sudah pas dikunci. saxofon ini siap dibunyikan.” Kemudian, Romo memainkan sebuah lagu sederhana. Suaranya mengagumkan. Aku dibuat merinding mendengarnya

“Ini Twingkle-Twingkle Star. Lagu ini diciptakan oleh anak umur lima tahun. Percaya, kamu bisa memainkannya.” Romo Van Stook memberikan saxofon itu kepadaku. Aku memegangnya. Dengan lembut, dia membetulkan posisi jari-jariku. Berat sekali. Selesai mengatur posisi tangan, aku mulai meniup. Tidak ada suara yang keluar. Hanya angin yang mendesis dari antara bilah bambu dengan besi. Ternyata tidak semudah seperti yang kupikir.

Awrat Romo.” Aku menyerahkan saxofon itu dan berniat untuk mengurungkan niat untuk bisa memainkannya.

“Pertama kali aku belajar, tidak ada apapun suara yang keluar. Kamu lebih cakap memainkannya daripada aku. Datanglah sering-sering kemari saat sore hari. Aku akan mengajarimu.”katanya lembut. Aku hanya bisa mengangguk.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara azan magrib. Suaranya menggaung ke seluruh desa. Anak-anak manusia mulai pulang ke rumah. Takut dicolong wewe gombel dan dibawa di pohon kluwih dekat sumur. Suasana jadi tenang. Romo Van Stook pun tidak bergeming apapun. Segera setelahnya, lonceng gereja berbunyi.

Sembahyang Malaikating Allah, Tomo,” pinta Romo mengajakku berdoa. Romo Van Stook yang memimpin berdoa. Rasanya teduh sekali waktu itu. Ada kedamaian saat ketika melulu dekat dengannya. Aku kagum dengan pribadi yang sungguh sayang dengan orang kecil sepertiku. Ketika aku membuka mata, tiba-tiba saja aku terkesan melihat baju indah Romo Van Stook yang jadi pembalut hati murninya. Aku jadi bermimpi suatu saat akan memakai baju panjang seperti punya Romo Van Stook.

Ini menjadi saat yang kunanti. Lagu kesayangan setelah magrib dan lonceng gereja akan segera ditayangkan secara langsung. Romo Van Stook sudah mengambil ancang-ancang untuk memainkan saxofonya. Dipegangnya benda itu, tampak sangat meyakinkan gayanya. Dia mulai mencoba meniup.

“Judul lagunya Ave Maria. Yang mengarang lagu ini sungguh istimewa, namanya Schubert. Kamu bisa sepertinya. Jadi tentaranya Maria dengan meniup saxofon ini…dottt…tot.”kata Romo Van Stook sambil memperagakan gaya serdadu parade fanfare.

Dia mulai melagukannya. Sungguh aku tak percaya menyaksikan. Dekat sekali aku melihatnya. Dia bermain dengan hati. Jiwanya seakan larut didalamnya. Tidak untuk pamer denganku. Dari alat musik itu seperti ada kata-kata yang keluar.  Indah sekali. Rasa-rasanya menjadi selimutku saat mulai gelap. Dia berdoa.

Ave Maria gratia plena, Dominus tecum; benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Iesus. Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen

Aku tak tahu, berapa ribu magrib aku tidak menjumpai gereja kecil ini. Berapa puluh ribu magrib aku lewatkan tanpa kehadiran Romo Van Stook di sini. Di kursi ini, pertama kalinya aku belajar saxofon, memencet tombol yang tak jelas dan hanya mengeluarkan angin. Tapi, justru dari pengalaman itu menjadikan aku sekarang. Cinta Romo Van Stook menyadarkan aku tentang harapan untuk menjadi berkat. Menjadi tentara Maria…itu yang kuingat.

Saxofon Romo Van Stook kini masih disampingku. Dia memberikan padaku saat purna tugas di gereja ini. Entah dimana dia. Aku tak yakin tubuhnya masih bernafas, tapi jiwanya tetap hidup. Jiwa itu pula yang menjiwaiku untuk meniup saxofon ini, untuk berdoa setelah Magrib –Ave Maria-

 “Lho…Romo Tomo kapan kondur anggenipun sinau musik?”ada suara yang membuyarkan fantasiku. Hilang sudah semua kenangan romantis tentang gereja ini. Aku kembali melihat senja yang telah ditandai suara azan membahana di bumi bagian ini.

“Pak Banjir…Berkah Dalem Pak, kala wingi nembe dugi griya.” jawabku sambil menjabat tangan koster gereja.

“Mangga Romo, kula badhe nglonceng rumiyin.”

“Mangga…mangga.”

Ketika lonceng berbunyi, aku kembali ingin mengulang kembali bagaimana cara Romo Van Stook berdoa. Caranya terlalu dalam untuk menyelami sebuah doa. Dia berdoa dengan seluruh jiwanya. Bukan hanya pelafalan kata walau dengan jembatan yang tidak mudah ditiru. Aku membuka kotak saxofon. Mengepas rit pada legatur dan mulai mencoba berdoa…

Ave Maria gratia plena, Dominus tecum; benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Iesus. Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen

 

Suwun…Hendy Kiawan


0 Responses to “Cerita Waktu Pulang”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: