21
Nov
08

Sakit, Salah Siapa?

Penyakit dan Tubuh Manusia

Penyakit menyebabkan rasa sakit. Betapapun ringannya sakit itu, pusing atau flu misalnya, tentu akan mengganggu dinamika hidup kita. Dr. Benyamin Lumenta, dalam bukunya yang berjudul Penyakit (Kanisius, 1989) mengatakan bahwa masuknya organsime mikro, zat kimia, dan pengaruh fisik seperti panas, dingin, api, benturan dapat menyebabkan penyakit. Meskipun demikian, manusia sendiri memiliki mekanisme tubuh yang cukup kuat, yaitu sistem immun (kekebalan) untuk melawan berbagai serangan dari lingkungan sekitarnya. Sistem immun ini berfungsi sebagai pertahanan tubuh, yaitu bekerja dengan cara mengenali dan menghancurkan para penyusup asing yang masuk sebelum menimbulkan kerusakan pada tubuh. Sel darah putih (leukosit) merupakan bagian utama dari sistem kekebalan tubuh ini. Kekebalan ini mempengaruhi seberapa besar daya tahan tubuh seseorang.

Kondisi daya tubuh dapat mengalami naik-turun. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain oleh pola hidup seperti pola makan, pola pikir dan aktivitas sehari-hari. Apabila proporsi salah satu faktor tersebut tidak lagi seimbang, akan berakibat menurunnya daya tahan tubuh. Selain itu, faktor usia juga mempengaruhi daya tahan tubuh. Apalagi, kehidupan modern menuntut seseorang untuk bergerak cepat dalam upaya memenuhi berbagai tuntutan kehidupan sehingga mengakibatkan kelelahan, kurang istirahat, stres. Kondisi ini dapat menekan dan memperlemah kerja sistem immun yang menyebabkan mikroba patogen (penyebab penyakit) seperti virus dan bakteri mudah masuk dan menyerang tubuh.

 

Prinsip Hidup Sehat

Gangguan kesehatan yang dapat timbul karena menurunnya daya tahan sebenarnya dapat diminimalisir dengan penerapan prinsip-prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah: hidup serasi dengan alam, minum air putih (air mineral murni) minimal 2 liter per hari, konsumsi makanan yang bergizi baik dan seimbang, memperoleh cukup sinar matahari pagi dan udara yang bersih juga segar, olahraga yang teratur dan terukur, bekerja dan istirahat dengan seimbang (membiasakan tidur teratur 7-8 jam di malam hari), mengendalikan emosi dan stress, dan menghindari alkohol, rokok, dan narkoba.

Tapi sayang hal itu tidak terjadi dalam hidupku saat itu.

Pengalaman Sakit

Pagi itu Minggu, 6 April 2008 pukul 03.00 badanku begitu menggigil kedinginan. Jaket dan selimut berlapis-lapis kukenakan pada tubuh ini. Masih tetap saja terasa kedinginan setengah mati sampai hari mulai siang. Segala jenis makanan tidak bisa mengisi perut, selalu saja keluar kembali. Kepala pusing sekali. Badan lunglai lemas. Suhu tubuh tinggi sekali. Perut mual ingin muntah terus tetapi tiada yang dikeluarkan. Aku minta infus. Segera saja pagi itu aku dibawa ke Rumah Sakit Santa Maria Pemalang. Hasil cek darah menunjukkan gejala typhus.

Enam hari berselang tidak ada tanda-tanda membaik, malah sebaliknya. Tidak disangka hari Sabtu muncul bintik-bintik merah di sekujur tubuhku. Cek darah kedua hasilnya ternyata positif demam berdarah. Parahnya, trombositku tinggal 20.000/mm3 jauh di bawah batas normal yaitu 150.000/mm3. Malam itu pukul 22.30 aku dipindah  ke RS St. Elisabeth Semarang. Puji Tuhan, aku sudah bisa mulai banyak makan. Entah berapa kali aku disuntik untuk cek darah karena harus menjalani program pengecekan setiap 6 jam sekali. Trombosit perlahan mulai naik. Keadaan semakin membaik. Hari Rabu siang aku diperbolehkan pulang ke Tegal.

 

Faktor Diri dan Lingkungan

Tetapi justru anehnya kebiasaan mutih sebagai bentuk askese, kuubah menjadi puasa. Selain itu, beberapa kali sering tidur larut malam di atas pukul 24.00 untuk menyelesaikan tugas-tugas paper. Padahal pagi hari sudah harus bangun pukul 04.30 untuk mandi kemudian doa meditasi. Kesempatan siesta (tidur siang) pun beberapa kali kugunakan untuk menyelesaikan tugas kebidelan. Di situlah aku memfosir diri. Tanpa sadar, sebenarnya aku  sendiri yang mengundang penyakit lamaku yaitu gejala thypus dan gejala demam berdarah yang pernah kualami saat kelas 2 SMP.

Faktor lingkungan juga berpengaruh. Tidak bisa dipungkiri bahwa di Tegal juga banyak nyamuk pembawa virus demam berdarah (April 2008 terdapat 5 kasus demam berdarah). Dan persis, seingatku beberapa hari sebelum merasa demam tinggi, ada penyemprotan anti nyamuk di kampung belakang kompleks wisma TORSA. Karenanya amat mungkin nyamuk-nyamuk itu mengungsi ke TORSA.

Tampak jelas bahwa terjadi perubahan pola hidup. Kebiasaan yang sudah teratur dan sesuai dengan kebutuhan tubuh (yaitu pembiasaan selama 4 tahun dengan jadwal Seminari Mertoyudan yang menentukan istirahat pada pukul 22.00 dan bangun pukul 04.45) berubah menjadi pemaksaan diri yang mengingkari ketahanan tubuh. Pola semacam ini jauh dari pola hidup sehat. Hal ini juga sesuai dengan apa yang diungkapkan dalam karya tulis kedokteran kuno yang dianggap ditulis oleh Hippokrates atau muridnya sekitar tahun 500 SM. Hippokrates mengungkapkan bahwa yang sebetulnya menyebabkan penyakit ialah perubahan besar, perubahan tiba-tiba yang datang dengan paksaan dan kekerasan. Demikian dikatakan Dr. Benyamin Lumenta dalam bukunya Penyakit (Kanisius, 1989).

 

Menanggung Akibat, Menumbuhkan Harap

Benarlah bahwa penyakit amat dekat dengan kehidupan manusia. Namun juga manusia dianugerahi sistem kekebalan yang senantiasa melindungi tubuh dari penyebab penyakit. Kekebalan tubuh dapat memelihara dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit. Kondisi daya tahan tubuh mengalami naik-turun, apalagi jika seseorang tidak menghidupi pola hidup yang sehat, entah karena satu dan lain hal akibat banyaknya tuntutan hidup.

Formatio pendidikan calon imam sudah amat taat pada pola hidup sehat yang ideal. Dari penjadwalan, pola makan, olah rasa, olah raga hingga olah spiritual. Namun sayangnya, berbagai cara dan fasilitas yang sudah disediakan tidak sepenuhnya dihidupi. De facto tanggungjawab dan tugas-tugas yang dipercayakan memang banyak. Semuanya penting. Tetapi mengenai kemendesakannya rupanya bisa disiasati sesuai dengan jadwal dan kemampuan tubuh kita. Tuhan tidak akan memberi tanggungjawab yang melebihi kemampuan kita. Meski dirasa mampu dan baik-baik saja, suatu saat tubuh tetap menuntut kebiasaan hidup yang sehat. Berani berkata cukup terhadap pekerjaan, lebih baik daripada harus membangun semuanya dari awal. Bagaimana mau bekerja di ladang Tuhan dengan optimal dan efektif jika para pekerja sakit-sakitan karena kurang bijaksana menata hidup?

 

Oleh: Wilibrordus Megandika Wicaksono


0 Responses to “Sakit, Salah Siapa?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

November 2008
S S R K J S M
    Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: