19
Nov
08

Profil: dr. Silvester Iwan Santoso

dr. Silvester Iwan Santoso

Direktur Rumah Sakit Palang Biru Kutoarjo

 

Ia adalah seorang dokter muda bernama Iwan Santoso. Sejak lahir 38 tahun yang lalu di Muntilan, dokter, yang memiliki nama baptis Silvester, dibesarkan di dalam keluarga katolik yang taat. Sekolah pun di sekolah katolik mulai dari pendidikan dasar di SD St. Yosep Muntilan sampai kemudian berlanjut di SMP Marganingsih, tetangga SDnya. Namun setelah lulus SMP, dokter yang baru saja berulang tahun 11 November kemarin, meninggalkan tanah kelahirannya menuju kota pelajar tetapnya di SMA 1 Yogyakarta dan tinggal di daerah Wirobrajan. Setelah lulus SMA, ia pindah tempat lagi yang lebih jauh yaitu ke kota Atlas, Semarang. Di sana Iwan muda, masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Ia ingin menjadi seorang dokter. “Sebenarnya saya tidak bercita-cita menjadi dokter”, pengakuannya. Sebenarnya ia lebih tertarik pada profesi pamannya yang menjadi seorang apoteker. Ia pun ingin menjadi seorang apoteker yang handal dan sukses seperti pamannya. Namun Roh Allah yang senantiasa menyertai langkahnya membawa ia ke arah yang lain, yaitu jurusan kedokteran yang ia tempuh mulai tahun 1989 sampai dengan tahun 1996.

Setelah menyelesaikan studi kedokteran beserta dengan coass (assisten dokter), dr. Iwan, yang adalah suami dari Kristinawati ini memulai karyanya sebagai pelayan medis di Puskesmas Pituruh, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Pelayanannya bukan dimulai dari daerah kota yang besar, melainkan diawali dari desa, bahkan terpelosok. Dalam reksa pastoral paroki Kutoarjo, Pituruh adalah tempat tinggal warga Katolik yang tergabung dalam jemaat stasi Ngandagan. Sebagai dokter muda ia memiliki semangat menggebu sesuai dengan sumpah dokternya, “Saya ingin melayani orang-orang yang mencari kesembuhan dan kesehatan”. 

Bulan Agustus 2006, dari Pituruh, ia mengalihkan perhatiannya kepada karya yang lebih luas dan besar yaitu di Rumah Sakit Palang Biru Kutoarjo. Di rumah sakit ini, ia yang kini tinggal di Jl. Sawunggalih 102 Kutoarjo, semakin mengembangkan penghayatan dan jawaban atas panggilannya menjadi seorang dokter. Ia berujar, “Rasanya ada anugerah setelah saya menjadi dokter”. Anugerah itu dirasakan saat ia berusaha menyembuhkan siapa saja yang datang kepadanya. Dan tambahnya, “Ada kegembiraan dan kepuasan bila pasien yang datang itu sembuh”. Bahkan sebagai seorang dokter yang mengimani nilai-nilai kristiani, dr. Iwan mencoba tampil lain. Bukan lain dalam arti negatif, melainkan lain dalam arti lebih ramah, bekerja dan melayani dengan sebaik mungkin dengan obat yang ada (profesionalitas), dan tak kalah penting, melayani setiap pasien, termasuk yang miskin. Ujar dr. Iwan, “Orang yang miskin akan susah bila sakit”. Ia ingin terbuka kepada siapa saja, kelas ekonomi manapun maupun agama manapun. Ia ingin agar rumah sakit menjadi terbuka bagi siapa saja.

Pada bulan Mei 2006, dr. Iwan, yang berpenampilan tenang dan kalem ini, diangkat menjadi direktur di Rumah Sakit Palang Biru (RSPB) Kutoarjo. Spiritualitas yang ia bawa terus semakin berkembang dan merasuk pula di rumah sakit, seiring perannya yang semakin penting dalam rumah sakit ini. Ia sadar bahwa rumah sakit katolik hendaknya memiliki semangat untuk menyembuhkan siapa saja yang datang ke sana. Oleh karena itu, rumah sakit katolik harus memiliki visi option for the poor. Ini bukan hal yang mudah, melainkan sebuah tantangan yang menarik. Rumah sakit katolik, memiliki orientasi berbeda dengan rumah sakit milik pemerintah alias negeri. “Jelas berbeda”, tegasnya, “Rumah sakit katolik menjalankan kegitannya bukan secara full-business melainkan social-business”. Ia pun kemudian mencontohkan, “Ketika pasien masuk, baik yang IGD maupun tidak, tidak diminta membayar uang muka terlebih dahulu. Obat dibayar setelah sembuh. Dan untuk obat yang tergolong mahal, pasien akan diberikan pemberitahuan dan persetujuan”. Jelas, yang menjadi titik utama adalah: pasien diselamatkan terlebih dahulu. “Itulah mengapa perkembangan rumah sakit katolik dalam hal fasilitas dan administrasi tertinggal dari rumah sakit negeri yang kebanyakan berorientasi full-business”, demikian dr. Iwan menjelaskan tantangan yang sedang dihadapinya. 

Apa kata masyarakat? Sejauh ini masyarakat merasa dilayani dengan cepat dan tepat. Selain itu, meski luas RSPB Kutoarjo tidaklah besar, namun kebersihan tetap terjaga. Inilah mengapa masyarakat Kutoarjo dan sekitarnya tetap menjadikan RSPBK sebagai rumah sakit favorit.

Justru inilah yang menjadi tantangan besar bagi dr.Iwan, sebagai direktur rumah sakit. Rumah sakit yang ia pimpin ini tidak terlalu besar, peralatan minimal, dan tenaga medis yang pas-pasan (jumlah dokter tetap hanya 4 orang). Situasi seperti ini membentuk pengalaman yang menarik dan mengesan bagi dia. Beberapa kali ia menemui satu atau dua pasien yang ‘rewel’. Pasien ini mintanya macam-macam dan aneh-aneh. Mereka meragukan kemampuan tenaga medis di RS ini karena termasuk rumah sakit kecil. Menurut dr. Iwan, biasanya pasien seperti ini secara ekonomi mampu berobat ke rumah sakit besar. Maka ketika mereka meragukan kemampuan tenaga medis di RS ini dan minta pindah ke RS besar, dr. Iwan menanggapinya dengan sabar. “Oh ya, nanti kami antar”, jawabnya. Pertimbangan dr. Iwan, “Kalau sudah tidak percaya, nanti ke belakangnya sulit (perawatan selanjutnya-red)”. Maka ia menuruti kemauan pasien dan sekaligus memupuk kepercayaan pada tenaga medis dan menjaga kepuasan pasien.

Karena keterbatasan yang ada, kadang juga ada duka yang terjadi, yaitu ketika ia tidak bisa menyelamatkan jiwa pasien yang datang ke rumah sakit ini. Ia sudah berusaha maksimal namun keterbatasan alat menghambatnya. Namun akan menjadi sebaliknya bila dalam keadaan gawat, ia bisa menyelamatkan pasiennya sampai sembuh. “Dengan alat yang terbatas, kami mampu menyelamatkan nyawa orang. Itu adalah sebuah kegembiraan dan kebanggaan besar bagi rumah sakit ini” tuturnya. Melalui pengalaman itu, ia menyimpulkan, “Tuhan saat itu dan sekarang sedang bekerja di Rumah Sakit Palang Biru”. Selain kepercayaan akan karya ilahi ini, ia juga terus berharap, “Kami tetap berusaha untuk meningkatkan fasilitas dan tenaga medis rumah sakit agar mampu menjadi alat kesembuhan bagi yang membutuhkan”.


0 Responses to “Profil: dr. Silvester Iwan Santoso”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

November 2008
S S R K J S M
    Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: