19
Nov
08

Cerpen: KEDAMAIAN

oleh: Bram Mahendra

 

Dalam hati slalu ku sebut nama-Mu…

                Namaku Baja, 18 tahun, sekarang SMA kelas 3. Aku tinggal di Jakarta, ikut kakak yang sekarang kuliah semester 5. Bapak dan ibuku tinggal di kampung. Setahun sekali, aku pasti pulang ke rumah. Hanya momen itu yang aku tunggu tiap tahun. Pulang ke rumah!

                Seperti biasanya, aku memasuki kamarku dengan langkah gontai. Aku mirip orang mabuk tapi aku yakin bahwa seratus persen aku tidak mabuk. Aku paling anti dengan yang namanya miras. Langkah gontai setiap kali memasuki kamar berujung pada persoalan yang sama…soal pelajaran di sekolah. Aku enggak habis pikir kenapa aku paling bodoh di sekolah. Kemaren, aku pulang sore karena harus menghadap guru matematikaku. Yah, semacam les privat gratis lah. Nilaiku gak pernah nyampe angka tujuh. Kalo nyampe aja, nilai temen-temenku yang lain pasti sembilan ato kalo enggak ya sempurna alias sepuluh.

Kali ini, aku harus kesekian kalinya liat angka tiga di kertas ulanganku. Aku enggak habis pikir, kenapa aku bisa kayak gini ? Aku udah berusaha rajin tetapi hasilnya tetap saja nihil. Apa emang aku enggak punya bakat kayak kakakku ? Yach emang, kemampuan otak kakakku jauh banget encer bila dibandingkan dengan aku. Sudah berapa kali pula aku harus mengikuti les tambahan di setiap pulang sekolah. Langkahku semakin gontai karena aku udah overdosis dengan pelajaran yang sama sekali tidak aku pahami.

                Penderitaan itu enggak cuma sampe di situ. Kayaknya, guru-guru amat pesimis sama kemampuanku. Selama ini, aku bisa naik sampai ke kelas 3 karena kebaikan guru-guruku. Walau dengan perjuangan yang amat berat, mereka membantuku untuk bisa dapetin angka 6,5 di kertas remidiku. Tapi untuk kali ini, guru-guruku bingung karena tidak tahu harus membantu apa lagi. UAN udah deket dan aku sama sekali enggak tahu harus memahami materi yang mana dan bagaimana memahami materi sebanyak itu.

Setiap saat hatiku slalu merindukan-Mu…

                Parah memang. Aku menganggap diriku bodoh setengah mati. Selama di sekolah aku menjadi orang yang sendirian terus. Aku tidak punya temen. Temenku Cuma Tanto, itupun gara-gara satu meja di kelas. Setelah itu, kembali lagi aku menjalani hidupku di sekolah dengan ditemani kesendirian.

Selain itu, aku merasa enggak pernah sepaham dengan temen-temenku. Mereka menganggapku sebagai pemberontak karena apa yang aku pikirkan jauh banget dengan yang mereka pikirkan. Ketika aku pengen berbuat baik, temen-temen malah berbuat jahat sama aku. Ketika aku berbuat jahat dengan mereka, aku malah kena getah dimarahi atau malah diskors. Pokoknya, kehidupanku mirip dengan tokoh-tokoh melankolis yang ada di sinetron-sinetron itu. Bedanya, mereka selalu mengalami happy ending, sedangkan aku…enggak tau kapan bakal ngalami hepi ending.

                Sama cowok aja payah, maka jangan tanya soal hubungan dengan cewek. Hancur mungkin kata itu yang paling pas buat menggambarkan. Aku pernah jatuh cinta tetapi kalian tau sendirilah bagaimana lanjutan ceritanya. Intinya, aku nothing di depan cewek-cewek. Bayangin aja, yang paling jelek di sekolah aja mikir kalo mau pacaran ma aku. Memang sadis hidup ini.

Kugantungkan jiwa ini kepada-Mu…

                 Aku pasang earphone di telingaku. Aku pencet tombol on dan MP4 kesukaanku mulai memainkan lagu yang aku simpan di dalamnya. Aku mulai melihat sekitar kamarku. Kalo mau dibilang miskin, rasanya enggak tepat bagiku. Aku termasuk keluarga menengah, cenderung kaya malah. Fasilitas di kamarku lumayan lengkap. Lap top, tape, MP4, dan seperangkat play station tersusun rapi di kamarku. Mungkin Cuma otakku saja yang enggak tersusun rapi.

KEDAMAIAN TOHPATI feat TERRY, judul itu muncul di layar MP4-ku. Petikan gitar Tohpati yang syahdu membuatku malas mendengarnya. Yah…setiap lagu ini muncul di MP4-ku, aku langsung menggantinya dengan lagu yang lain. Lagunya syahdu, hanya itu alasannya. Mendengar lagu itu, bukan kedamaian yang aku dapat, tapi malah bualan-bualan semu yang membuat hari-hariku semakin suram. Bagiku, omong kosong soal kedamaian yang aku dengar dari Tohpati. Yang segera ingin aku pecahkan adalah bagaimana aku menggunakan otakku serapi kamarku. Aku ingin lulus, aku pengen bisa berelasi dengan baik, pokoknya aku ingin normal kayak temen-temenku yang lain.

Secerah mentari seindah pelangi, hasratku pada-Mu oh Tuhanku…

                Sepuluh jam sudah aku duduk di bawah pohon beringin taman ini. Bajuku putih bersih bersinar tanpa coretan, tapi wajahku suram. Kejadian kali ini seperti yang aku takutkan. Yah, aku tidak lulus sekolah, artinya aku harus mengulang lagi. Yang aku pikirkan saat ini adalah mau jadi apa aku nantinya jika tetap seperti ini. Aku enggak peduli dengan siapa aja. Terserah mereka, guru-guruku memandang jijik dengan kata “wajar” di bibirnya ketika mengomentari ketidaklulusanku. Temen-temenku hanya tersenyum kecut melihatku. Bapak, ibu, dan kakakku pasti marah besar. Aku hancur.

                Mentalku enggak sekuat namaku. Mungkin nama LEMBEK pas dengan kondisiku saat ini. Tidak ada lagi BAJA. BAJA sudah hancur berkeping-keping.

Cintai aku slama hidupku, bawalah aku ke dalam surga-Mu, temani aku setiap langkah ini, kuingin kedamaian sampai akhir nanti…

                Earphone masih terpasang di telingaku. Senyum menghiasi wajahku. Aku enggak gila. Aku sedang menikmati petikan gitar Tohpati. Bapak, ibu, kakak, dan aku sedang duduk bersama di ruang keluarga ini. Inilah momen yang aku tunggu setiap tahun. Saat di mana aku bisa bertemu dengan bapak ibuku di rumah. Tapi, senyuman kali ini lebih dari yang biasa, lebih dari kebahagiaan pertemuan aku dengan bapak ibuku sebelumnya.

                Sambil mengingat kenangan tiga tahun lalu setelah aku pulang ke rumah dari bawah pohon beringin itu. Tidak ada kata-kata dari kakakku. hanya tepukan di bahu yang kuterima. Saat kulihat wajahnya, hanya ada tulisan “senyum” di dahinya. Saat itulah, aku menemukan kedamaian yang aku cari. Bukan kebahagiaan yang aku kejar dengan studiku, dengan relasiku, dengan cita-citaku, dengan semua kebodohanku, tapi sebuah pernyataan hidup yang aku pegang hingga sekarang. Aku damai karena aku tahu bahwa aku tidak bisa dan aku mau menerima semuanya serta mau berusaha terus tanpa henti hingga berhasil. Inilah aku, ternyata aku masih BAJA yang baru keluar dari bara api.


0 Responses to “Cerpen: KEDAMAIAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

November 2008
S S R K J S M
    Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: