10
Nov
08

Hidup Sehat bagi Para Religius Menurut Pandangan Para Tenaga Kesehatan

 

Ada romo yang sakit? Tentu saja ada. Namanya juga manusia biasa. Mereka, para religius (imam, biarawan-biarawati) bukanlah manusia super yang terus sehat dan anti sakit. Meskipun cara hidup agak berbeda dengan orang kebanyakan, namun dalam masalah kesehatan tetap seperti orang kebanyakan. Jenis penyakitnya bisa bermacam-macam, mulai dari yang ringan-ringan seperti flu sampai dengan yang akut seperti kanker. Penyebabnya juga bisa bermacam-macam. Bisa karena kelelahan bisa juga karena genetis. Intinya, sakit para religius itu adalah hal lumrah yang terjadi pula pada orang kebanyakan.

Namun sakit para religius yang adalah para pelayan pastoral dan rohani itu memberi dampak dalam kehidupan komunitas iman (Gereja), entah di paroki maupun di komunitas karya masing-masing. Pelayanan pada umat menjadi terganggu karena sakitnya itu. Hal ini menjadi sebuah persoalan dan keprihatinan baik bagi religius itu sendiri maupun bagi umat secara keseluruhan. Dengan demikian, persoalan sakit para religius adalah persoalan bersama jemaat beriman secara keseluruhan, baik yang terkait secara langsung maupun tak langsung. Siapapun kemudian menginginkan sehatnya (tidak sakitnya) para religius. Demikian pula para pelayan medis yang menangani religius yang sakit itu. Entah mereka itu ada hubungannya dengan Gereja atau tidak, mereka pun menginginkan kesehatan pasien yang datang, entah religius maupun awam.

 

22-mbak-siska3

 Saat Religius Sakit

Usaha para pelayan medis membuat para religius yang sakit untuk kembali sehat dan siap berkarya merupakan hal yang menarik. Apakah cara hidup yang berbeda dengan orang kebanyakan itu mempengaruhi mereka ketika sakit? Meskipun nampaknya sama dengan pasien lainnya, namun kadang kala para pelayan medis menemukan sesuatu yang berbeda dan tidak biasa pula. Seorang perawat, Fransiska Dyah F (30 th), menuturkan bahwa para religius itu lebih mandiri ketika sakit. Mbak Siska, yang sudah menjadi perawat selama 8 tahun di beberapa rumah sakit ini merasakan bahwa pasien yang termasuk kaum religius ini berusaha mandiri dan tidak ingin menyusahkan para perawat walaupun pelayanan yang diberikan oleh perawat tidak membeda-bedakan dari pasien lain, bahkan kelas kamarnya juga biasa. Pernah pasiennya ingin ke kamar mandi sendiri, mandi sendiri dan urusan ‘belakang’ juga sendiri. Hal ini memang memudahkan perawat, walaupun cukup membahayakan bila kondisi pasien memang tidak memungkinkan. Oleh karena itu perhatian perawat lebih waspada apalagi ketika religius itu tidak ada yang menjaga, entah karena komunitasnya sibuk atau permintaan dari pasien sendiri.

 

andre

Pengalaman lain lagi diungkapkan oleh Andreas Ambar Setyawan (24 th). Bagi perawat di bagian bangsal untuk pria disebuah rumah sakit ini, pelayanan kepada para religius tak merepotkan karena diperlakukan sama dengan pasien lain, malahan beberapa tidak mau dan tidak ingin merepotkan para perawat. Namun kadang pula ia menemui pasien religius yang sedikit merepotkan. Ketika ia tugas di rumah sakit swasta katolik yang besar, ia menjumpai pasien yang sedikit membuat repot dibandingkan pasien lain pada umumnya. “Dari atas (pihak yayasan-red) terus memantau”, tuturnya. Atau kadang pula ada permintaan-permintaan khusus dari yayasan. Ini yang membuat kerja para pelayan medis, yang bekerja sudah sesuai dengan standar prosedural dan keadilan bagi setiap pasien, sedikit repot. Bahkan kadang pula ‘rewel’ alias manja dan tidak menuruti asuhan perawat. Sebagai perawat, Mas Andre, panggilan akrabnya, tetap sabar dan menghormati permintaan pasien. Ia menambahkan, “Kami, perawat, bertugas untuk melayani ketidakmampuan, bukan ketidakmauan”. Namun ini hanya sesekali ia temui, sebab lebih sering pasien sendiri yang menolak diperlakukan istimewa. Inilah bagian dari kerendahan hati seorang religius menerima nasihat dan bimbingan dari para pelayan medis. Bukankah akan menjadi lebih baik dan menguntungkan bila setiap pasien taat pada anjuran dokter dan asuhan perawat?

Itulah secuil pengalaman para pelayan medis dalam memperjuangkan kesehatan dan kesembuhan para religius. Melalui kompetensi dalam bidangnya, mereka selama ini telah memberi banyak arti dan sumbangsih bagi karya dan pelayanan Gereja. Siapapun mereka secara langsung dan tidak langsung, mereka menjaga kelancaran tugas perutusan Gereja dalam hal ini para religius sebagai pelayan rohani dan pastoral. Meskipun mereka siap bila para religius mengalami masalah dengan kesehatannya, mereka, para pelayan medis (dan juga seluruh umat) tetap menginginkan para religius menjaga kesehatannya, sehingga tidak mudah sakit.

 

Makan Banyak, Jadi Gemuk

Menjaga kesehatan itu gampang-gampang susah. Misalnya saja pola makan. Kita bisa sulit menghitung para religius yang (maaf) berbadan subur, karena banyaknya. Malahan kesuburan badan itu menjadi identik dengan para religius. Dalam guyonan, religius yang kurus kadang disindir, “Kok kurus terus, ndak krasan ya?”. Memang di pastoran, biara maupun komunitas religius, biasanya makanan berlimpah dan enak-enak. Bisa jadi makanannya yang membuat cepat gemuk, atau karena enaknya, makan selalu banyak.  Menurut dr. Iwan Santosa, seorang dokter di RSPB Kutoarjo, kegemukan itu bisa menjadi merangsang penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).

Mas Andre juga menambahkan bahwa para religius dengan pengetahuannya sebenarnya tahu mana makanan yang baik bagi kesehatan, maka sedapat mungkin menjaga diri sendiri dan menghindari apa yang harus dihindari. Asupan nutrisi yang tepat dan cukup haruslah diberi prioritas. Makan tidak perlu berlebihan, menurut dr. Iwan.

 

Olah Raga Mengurangi Resiko Penyakit

Kegemukan dan penyakit kardiovaskuler bukan hanya karena pola makan saja, namun, tambah dr. Iwan, karena biasanya para religius itu kurang gerak. Aktivitas “di belakang meja” dan kesibukan kantor membuat sedikit saja gerak. Sebagai dokter pun, ia mengalami hal yang sama ketika harus duduk dan berdiri di tempat yang sama (untuk memeriksa pasien). Bentuk tugas dan profesinya membuat ia sedikit gerak. Maka ia berusaha untuk olah raga secara rutin. Olah raga idealnya minimal tiga kali seminggu dan 30 menit setiap kali olahraga. Olah raga yang dimaksud adalah olah raga yang membuat jantung lebih cepat berdetak. Hal ini supaya kapasitas jantung dan paru-paru meningkat. Olah raga juga mengurangi resiko radang sendi dan osteoporosis. Memang susah kalau sudah sibuk. Susah pula membentuk pola hidup demikian.

 

Medical Check-Up

Selain itu kepekaan terhadap kondisi tubuh akan membantu kita menjaga kesehatan, menurut Mbak Siska dan Mas Andre. Para religius perlu tahu kondisi dan mekanisme tubuhnya (maka perlu medical check-up rutin, minimal sekali setahun). Bila tensi cenderung tinggi, siap-siap mengurangi garam bila terasa tensinya naik. Atau bila memiliki penyakit gastritis atau maag, pola makan dijaga secara teratur. Ini adalah usaha preventif. Mas andre kembali menegaskan, “Sebenarnya para religius sudah banyak tahu hal ini, tinggal bagaimana menjalankannya”.

 

Benar apa yang dikatakan Mas Andre. Para religius sebagian besar sudah memiliki banyak informasi yang perlu diketahui mengenai kesehatan. Tinggal kemauan dari para religius sendiri untuk memperhatikan kesehatannya. Kesehatan pelayan pastoral ternyata juga berciri eklesial. Kesehatan pelayan pastoral/rohani bukan demi dirinya sendiri, melainkan demi karya Gereja yang lebih luas. Bila pelayan sehat maka karya akan berjalan dengan baik, dan umat pun terlayani dengan baik. Maka benar pepatah yang diberikan St Vincent Ferreri ini: “Whatever you do, think not of yourself, but of God ”. Atau dalam bahasa terjemahan yang disesuaikan dengan tema kita, pepatah ini berarti, apapun yang kita lakukan, jangan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk Tuhan (dan Gereja).


0 Responses to “Hidup Sehat bagi Para Religius Menurut Pandangan Para Tenaga Kesehatan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

November 2008
S S R K J S M
    Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: