08
Nov
08

Allah Memberi Hidup, Manusia Memeliharanya

Internet

sumber: Internet

           

Inilah kisah penciptaan manusia: “Ketika itu Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup di dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”(Kej 2, 7).

 

Hidup, Sebuah Pemberian

Hidup manusia berasal dari Allah. Allah menghembuskan nafas hidup kepada manusia, sehingga manusia hidup. Oleh karena itu, hidup manusia semata-mata adalah sebuah pemberian. Hidup manusia adalah sebuah rahmat. Pemberian itu semakin sempurna karena Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej 1, 27).

Sejak dulu, umat Israel percaya bahwa hidup adalah pemberian dan berkat dari Allah. Dalam Perjanjian Lama, warna ini sangat kental. Mereka meyakini bahwa Allah menentukan panjang pendeknya umur manusia (Ul 32, 39; 1 Sam 2,6). Umur panjang dipercaya sebagai berkat dari Allah: “Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan keselamatan dari pada-Ku” (Mzm 91, 16). Oleh karena itu, dalam Perjanjian Lama, dikisahkan bahwa para Bapa Bangsa memiliki umur yang panjang. Umat Israel meyakini bahwa para bapa bangsa ini adalah orang-orang yang diberkati Allah. Abraham, misalnya, mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua, dan suntuk umur (Kej 25,7). Sebaliknya, kematian (mati muda) dianggap sebagai kutuk. Dalam Perjanjian Lama, kematian sering dianggap sebagai akibat dari dosa. Tindakan yang melanggar perjanjian dengan Allah mengakibatkan kematian karena Allah dapat memperpendek umur manusia yang berdosa. Di sini, nampak bahwa peran Allah dalam menentukan panjang pendeknya umur manusia amat menonjol. Sementara itu, peran manusia kurang begitu nampak. Namun demikian, dalam arti yang lebih positif, dapat ditarik makna bahwa hidup memang semata-mata pemberian dari Allah.

 

Yesus, Pencinta Hidup

            Perjanjian Baru menampilkan Yesus sebagai sosok yang mencintai kehidupan. Dalam karya-Nya, Yesus menyembuhkan banyak orang dari penyakit. Karya Yesus menyembuhkan penyakit umumnya dimaknai secara teologis sebagai pernyataan dan perwujudan kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Namun demikian, tindakan Yesus ini bisa juga dimaknai sebagai sebuah wujud cinta terhadap kehidupan. Penyakit adalah sebuah ancaman terhadap kehidupan karena penyakit bisa berujung pada kematian. Kisah Yesus menyembuhkan anak pegawai istana kiranya dapat memberi sebuah gambaran. Dikisahkan bahwa anak pegawai istana menderita sakit yang amat parah. Ketika pegawai istana mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, “pergilah ia kepada-Nya lalu meminta supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati”. Penyakit telah mengancam hidup anak pegawai istana tersebut. Yesus bersabda pada pegawai istana, “pergilah, anakmu hidup.” Sabda Yesus ini membuahkan kesembuhan pada diri anak pegawai istana (Yoh 4,46-54). Dengan menyembuhkan penyakit, Yesus telah membebaskan manusia dari ancaman terhadap kehidupan.

            Sebagai pecinta kehidupan, tidak jarang Yesus harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan risiko. Injil seringkali menampilkan Yesus yang menyembuhkan orang pada hari Sabat. Tindakan Yesus ini menimbulkan reaksi keras dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, (misalnya dalam Mat 12,9-14; Mrk 3,1-6; Luk 6,6-11; Yoh 5,1-18). Hal ini bisa dipahami, karena bagi orang Yahudi, hari Sabat adalah kudus, di mana semua orang dilarang bekerja pada hari itu (Kel 20,8; Ul 5,12). Namun, bagi Yesus, membela kehidupan jauh lebih penting dan berharga daripada sekadar mematuhi peraturan-peraturan secara kaku.

           

Manusia, Memelihara Hidup

            Hidup manusia adalah pemberian Allah, maka hidup manusia sungguh istimewa dan berharga. Oleh sebab itu, panggilan dan tugas manusia adalah memelihara kehidupan. Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana manusia memelihara hidupnya? Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya bisa bermacam-macam. Di sini, penulis mencoba menawarkan tiga point, yakni mencintai hidup, menjaga kesehatan, dan mencegah penyakit.

  1. Mencintai Hidup

Mencintai hidup adalah langkah pertama memelihara kehidupan. Inilah roh/ semangat yang menjiwai setiap orang untuk memelihara hidupnya. Hidup itu anugerah, maka hidup perlu disyukuri dan dicintai. Sebagaimana Yesus mencintai kehidupan, setiap manusia pun dipanggil untuk mencintai hidup. Kitab Ulangan, misalnya, mengajak agar semua manusia lebih memilih kehidupan daripada kematian. “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu!” (Ul 30,19). Pilihan terhadap kehidupan akan membuahkan kehidupan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, namun bagi orang lain.

  1. Menjaga Kesehatan

Langkah yang lebih konkret dalam memelihara kehidupan adalah menjaga kesehatan. Kesehatan tidak hanya melulu kesehatan jasmani, tetapi juga rohani. Kesehatan jasmani bisa dilakukan dengan cukup berolah raga, makan yang teratur, dan tidur yang cukup. Menarik juga untuk disebut bahwa ternyata Gereja mempunyai perhatian khusus terhadap pemeliharaan kesehatan jasmani. Dalam dokumen Panitia Kepausan untuk Reksa Pastoral Kesehatan, misalnya, ditegaskan bahwa pemeliharaan kesehatan jasmani merupakan bagian integral dari pemeliharaan hidup. Dikatakan di sana bahwa memelihara kesehatan jasmani merupakan salah satu bentuk dari perwujudan iman, sebab tubuh manusia adalah milik Allah. Kesehatan jasmani mempengaruhi juga kesehatan rohani. Mens sana in corpore sano. Jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Nah, secara konkret, kesehatan rohani dapat diperoleh dengan berdoa, meditasi, kontemplasi, latihan rohani, berpuasa, beramal, mudah bersyukur, dan lain sebagainya.

  1. Mencegah Penyakit

Pencegahan penyakit juga merupakan sebuah langkah konkret memelihara hidup. Sekali lagi menarik, bahwa Gereja mempunyai perhatian khusus pada tindakan pencegahan penyakit. Masih dalam dokumen Panitia Kepausan untuk Reksa Pastoral Kesehatan dikatakan, “pencegahan itu lebih baik daripada penyembuhan, baik karena dengan itu orang tidak perlu mengalami rasa tidak enak dan penderitaan…” Demi kelangsungan hidup manusia, serangan penyakit apapun harus dicegah. Dalam usaha mencegah penyakit ini, aktor utama yang berperan adalah orang itu sendiri. Orang perlu mengatur hidupnya secara seimbang, mampu menolak apa-apa yang dapat menimbulkan penyakit, mempunyai semangat ugahari, dan bisa memilih apa yang terbaik bagi hidupnya.

 

Allah memang telah menentukan hidup manusia. Hidup mati manusia sepenuhnya ada di tangan Allah. Namun demikian, manusia tidak boleh kemudian mengesampingkan hidup karena berpikir bahwa Allah telah menentukan hidupnya. Manusia perlu memelihara hidup dengan sungguh-sungguh. Hidup manusia itu 100% rahmat Allah, 100% usaha manusia. Allah yang memberi hidup, manusia yang memeliharanya!

 

oleh: Fr. Lilik Andoko, Yulius

Calon Imam Keuskupan Purwokerto, tingkat IV


0 Responses to “Allah Memberi Hidup, Manusia Memeliharanya”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Jumlah Pengunjung

  • 36,186 pengunjung

Tanggalan’e

November 2008
S S R K J S M
    Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Polling

Peta Keuskupanku

Photobucket

Download Driver nVidia

AC_FL_RunContent('flashVars', 'widgetVersion=vertical&widgetLanguage=en-us','src', 'http://www.nvidia.com/content/DriverDownload/widget/v2/driver_widget','width', '320','height', '620','align', 'middle','id', 'driver_widget','quality', 'high','bgcolor', '#869ca7','name', 'driver_widget','wmode', 'transparent','allowScriptAccess','sameDomain','type', 'application/x-shockwave-flash','pluginspage', 'http://www.adobe.com/go/getflashplayer');

Selamat Natal 2008 dan tahun baru 2009


%d blogger menyukai ini: